Tidak Ada Idul Fitri di Belanda

Masih dalam suasana Lebaran atau Idul Fitri, saat kita merayakan kemenangan setelah selama satu bulan menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Suasana Idul Fitri yang kita rasakan tidak terjadi di Belanda. Di negeri Kincir Angin tersebut Idul Fitr atau Idul Fitri tidak dikenal oleh masyarakat luas, melainkan Suikerfeest (harfiah: Pesta atau Hari Raya Gula, dirayakan dengan makanan minuman serba manis bergula). Di buku, agenda, kalender, atau media massa, Suikerfeest adalah nama baku untuk menyebut hari raya 1 Syawal itu.

“Di hari itu kalian akan makan minum serba manis, bukan? Saya pernah diundang kawan kuliah dari keluarga Turki. Semua yang tersaji serba manis,” kata kolega Lisette kepada detikcom.

Dia mengernyitkan kening ketika dijelaskan mengenai nama hari raya sesungguhnya Idul Fitr atau Idul Fitri. Heran dia. Sama herannya ketika komunitas muslim Indonesia pertama kali mendengar nama Suikerfeest.

Lantas dari mana asal-usul kata Suikerfeest, sehingga menjadi demikian mengakar dan diterima umum di Belanda sebagai nama hari raya 1 Syawwal? Komunitas Arab di Belanda selalu menggunakan nama Idul Fitr atau Id Saghir (Id Kecil) dalam dialek Arab Marokko. Sedangkan komunitas Indonesia juga menggunakan nama sama dengan tambahan ‘i’ atau lebaran. Komunitas Jawa Suriname menyebutnya Ngidul Fitri atau Riyoyo, Riyayan. Tapi Suikerfeest?

Selidik punya selidik ternyata Suikerfeest merupakan terjemahan bahasa Belanda dari bahasa Turki: Seker Bayrami (nisba.nl), seker = suiker (gula), bayrami = feest (pesta, hari raya). Dan menu orang Turki pada hari raya itu memang didominasi rasa manis, seperti Baklava (kue tepung pistas diguyur madu), Sutlu Kadayif (kue manis campur susu), Assure (dessert campuran buah kering dan kacang-kacangan) dan banyak lagi yang serba manis.

Kalangan komunitas muslim sebenarnya kurang sreg dengan penamaan Suikerfeest yang sudah terlanjur dipakai secara umum di Belanda itu. Mereka kini mulai mengakrabkan nama sesuai aslinya: Idul Fitr. Pasalnya, nama Suikerfeest dinilai telah mendangkalkan dan membiaskan makna hari raya 1 Syawwal melulu ke urusan makan minum.

Konon nama Seker Bayrami di Turki belum ada selama 7 abad masa Ottoman Empire (Khilafah Usmaniyah, 1299-1923). Nama itu baru dipopulerkan setelah Kemal Ataturk berkuasa dan mengganti semua yang bertautan dengan Arab, termasuk mengganti Azan dengan bahasa lokal. Tapi sepeninggal Ataturk, umat muslim Turki mulai kembali ke akarnya. Azan misalnya, dirasa wagu dan janggal dilantunkan dengan bahasa Turki. Mereka kembali azan dengan bahasa Arab, termasuk di semua masjid Turki di Belanda.

(sumber: Detik.com)

Tag: , , ,

Satu Tanggapan to “Tidak Ada Idul Fitri di Belanda”

  1. faisol Says:

    baru tahu saya kalo adzan pun pernah bahasa Turki… trims telah memposting…

    selamat Idul Fitri 1429H… mohon maaf lahir & batin juga…

    sebagai tambahan, saya membuat tulisan tentang “Idul Fitri, Kembali Fith-rah ataukah Kembali Fith-run?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/10/idul-fitri-kembali-fith-rah-ataukah.html
    (link di atas adalah tulisan ke-1 dr 2 buah link tentang Muhasabah Idul Fitri)

    semoga Allah menyatukan dan melembutkan hati semua umat Islam, amin…

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: