Mamograph (Malang Lomography)

HolgaDi tengah ingar-bingarnya perayaan teknologi kamera digital karena kesempurnaan gambarnya, anak-anak muda Kota Malang malah memutuskan kembali ke kamera lomo. Sebuah kamera mainan berbahan plastik. Kelompok ini ingin menunjukkan bahwa kamera lomo bukan lagi “kamera mainan”.

Sekelompok anak muda tampak asyik berdiskusi di warung depan kampus ITN Jumat (29/5) siang lalu. Menariknya, masing-masing memegang sebuah kamera. Dari jauh, kamera-kamera itu tak ada bedanya dengan kamera digital. Hanya, bentuknya kamera tangan atau pocked.

Tetapi, ketika dilihat lebih dekat dan lebih detail, kamera-kamera itu ternyata kamera plastik. Tepatnya kamera berbahan plastik. Mulai bungkus sampai lensanya. Dan inilah yang dinamakan dengan kamera lomo alias toy cam. Anak-anak muda itu memang komunitas penggila kamera mainan berbahan plastik yang bernama Mamograph (Malang Lomography). “Tiap Jumat kami memang ngumpul bareng. Sabtu waktunya hunting foto,” ujar Aldila Avezine, ketua komunitas Mamography ini.

Bahkan, jadwal itu sudah paten di kalangan anggota komunitas. Selain untuk membina komunikasi, pertemuan rutin tiap Jumat dan hunting bersama saat Sabtu menjadi wadah menghidupkan organisasi. “Demam kamera lomo sekarang sedang tren. Kami khawatir jika nanti booming-nya meredup, kehidupan organisasi ikut meredup,” kata Aldila.

Kebetulan juga, sambung Decky Yulian, sang penasihat Mamography, sejak pekan lalu semua anggota komunitas sedang mendapat tugas proyek. Yakni, hunting foto sekaligus riset bertema plastik fantastik. Sebuah riset tentang budaya plastik. Mulai produk fashion, alat-alat rumah tangga, mainan plastik, sampai sampah plastik.

Tema plastik fantastik diambil karena saat ini produk plastik sedang menggila hampir di seluruh penjuru Kota Malang, bahkan Indonesia. Padahal, penggunaan plastik tak hanya mendatangkan manfaat, tapi juga ada efek negatif ikutannya. Salah satunya sulit menangani sampah plastik. Bahkan, mikroorganisme tanah butuh ratusan bahkan ribuan tahun untuk melumat sampah plastik. Kecuali, jika ditempuh jalan daur ulang. “Ini hanya salah satu alasan. Alasan lain kami kira akan lebih istimewa saja ketika proyek plastik ini dibidik dengan kamera plastik,” kata Decky lantas tertawa.

Proyek hunting plastik fantastik ini diharapkan tuntas akhir Juni. Jadi, sekitar sebulan mereka berburu foto tentang budaya plastik. Sehingga awal Juli mereka bisa mulai persiapan seleksi foto, kuratorial, dan display visual. “Kami menyebut proyek ini sebagai visual riset. Output-nya visual art,” tandas Dicky.

Dia mengisahkan, apa yang bisa dilakukan anggota komunitas kamera lomo itu sangat jauh dari angan-angannya semula. Maklum saja, teknologi kamera lomo ini baru ngetren pada tahun 2005. Di Kota Malang sendiri, komunitas kamera lomo baru terbentuk 10 Oktober 2008. Padahal, sejak 1999 kamera lomo ini sudah dikenalkan lewat forum-forum diskusi fotografi. Bahkan, saat presentasi, tak jarang Decky bersama Insomnium (klub fotografi) menggunakan media toy cam. “Saat itu di Malang yang punya kamera lomo baru satu dua orang. Memang belum terlalu terkenal saat itu,” ungkapnya.

Aldila menambahkan, terbentuknya komunitas lomography ini cukup unik. Sebab, sejak awal, sebenarnya Aldila yang akrab disapa Ovie ini tak pernah mengenal yang namanya kamera lomo. Ketertarikannya terhadap kamera lomo berawal ketika salah satu kerabatnya yang membeli kamera mainan berwarna putih dengan bentuk menarik. Kemudian diketahui bahwa kamera mainan itu adalah kamera lomo yang sekarang terkenal dengan kamera fish-eye. Sebuah kamera yang dapat menghasilkan gambar dengan distorsi 120 derajat. “Akhirnya kami dengan beberapa teman lain ikut membeli kamera lomo,” ungkap mahasiswa semester IV FH Universitas Brawijaya (UB) ini.

Ketertarikan terhadap kamera lomo tersebut membuat mereka makin penasaran dengan teknologi lomo. Apalagi, kamera lomo memiliki sejarah panjang. Awalnya, kamera lomo adalah kamera perang khusus untuk intelijen Rusia. Oleh seorang mahasiswa yag juga fotografi Swedia, kamera ini disederhanakan menjadi kamera plastik. Sehingga, harganya menjadi murah, teknologi lebih sederhana, dan semua komponennya berbahan plastik.

Bahkan, jenis-jenisnya kini berkembang banyak. Tak lagi kamera fish-eye, tapi ada juga color splash, action sampler, oktomat, holga, horizon, sampai holga pinhole. Masing-masing kamera itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Fish-eye misalnya. Kamera jenis ini memiliki satu lensa dengan cakupan pandangan 170 derajat, dilengkapi pula dengan internal flass dan film 35 mm. Lain lagi dengan kamera jenis horizon yang satu kali jepretan mampu menghasilkan dua gambar sekaligus. Sehingga jika dicetak lebih mirip foto sekuel. “Kamera lomo ini harganya mulai Rp 350 ribu sampai Rp 6 juta,” kata Aldila.

Karena kelebihan-kelebihan itu akhirnya Aldila makin gila dengan kamera lomo. Bersama tiga teman lain yang juga tertarik kamera lomo, mereka mulai mengikuti workshop tentang teknologi kamera lomo. Bahkan, semangat itu mereka sebarkan melalui situs pertemanan atau facebook. Hasilnya, dari yang awalnya hanya digandrungi empat orang, kini anggota komunitas lomography di Kota Malang menjadi 25 orang. Anggotanya tak hanya dari kalangan mahasiswa saja, tapi juga siswa.

Sayangnya, dari 25 anggota itu, hanya 17 yang benar-benar aktif dan intens berkumpul. Mereka terdiri atas tujuh anggota golongan pelajar dan sepuluh dari kalangan mahasiswa. “Bertambahnya anggota ini juga hasil situs pertemanan. Kami juga lebih sering komunikasi via e-mail dan facebook,” tambah Aldila.

Salah satu anggota yang nyantol dari situs pertemanan itu adalah Faizal, siswa kelas XI SMAN 7. “Saya tahu komunitas ini juga dari internet. Rasanya seru saja berburu foto dengan kamera plastik,” kata Faizal yang juga ikut ngumpul bersama anggota komunitas lainnya.

Meski makin populer, Aldila tetap tak ingin berhenti menyosialisasikan kamera lomo. Bahkan, ke depan diharapkan kamera lomo menjadi tren di kalangan anak muda Kota Malang karena dinilai sangat pas dengan genre anak muda. Yang lebih penting lagi, komunitas akan terus menyikapi bagaimana kamera plastik membidik budaya penggunaan barang-barang berbahan plastik dan dampaknya. (Jawapos Radar Malang)

Tag: , , , , , ,

5 Tanggapan to “Mamograph (Malang Lomography)”

  1. Membuat Efek Lomo di Photoshop « ZoeL Says:

    [...] lomo atau lomography? Selengkapnya baca di sini. Di Malang sendiri ada komunitasnya dengan sebutan Mamograph (Malang Lomography). Namun bagi kita yang tidak memiliki kamera Lomo, jangan khawatir, dengan [...]

  2. gigih Says:

    good perfect result ya heheheh lomograph ilove

  3. djempoelkaki Says:

    bung.. . ane copy dikit ya postingannya.
    hehe.. .

  4. chi Says:

    wah ni perkumpulan di Malang ya :D
    enak donk kali ikutan >,<
    baru beli nie, tp blm di coba TT

  5. isanu Says:

    selamat malam gan ini mau tanya klo pengen gabung gimana caranya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: